Manajemen Usaha Perjalanan

Just another WordPress.com weblog

Belawan Seaport Tour Februari 9, 2011

Filed under: Uncategorized — Manajemen Usaha Perjalanan @ 5:30 am

By : Fransisco Tambunan dan Evanni Munthe

(Mahasiswa MUP Upper III/5A)

Laporan : Kunjungan ke Belawan Seaport

Name of Tour : Seaport of Belawan

Date  : 17 january 2011

Duration : 120 minutes

ETD : 09.00

ETA : 11.00

No. of Participant        : 38 Female      10 Male

The Routes                  : Nirvana Hotel – Unimed – Slamet Ketaren – Letjen Sudjono – Tolbal Merah – Seaport Belawan ( TR ) – Tolbal Merah – Pancing – Nirvana Hotel.

Personnel Incharge:

Tour Guide

1. Putri Juwita Naibaho

2. Sri Gusniari Silalahi

3. Riris  Evatalina Haloho

4. Surya Manurung

5. Ramadana Lubis

6. Meilins Sari Girsang

7. Vida Cintia Silalahi

8. Andrey Martin

9. Suramantha N Ginting

10. Fredy Pandapotan P

Tour Planer

1. Yessika sisilia Pinem

2. Vivi Wedari Mega

3. Nisa Mursyida

4. Kristina Evalina Simanjuntak

5. Vernando Saragih

6. Wahyu Eko Wijaya

7. Yossi Mazda Damanik

8. Sarah Maharani

TOUR ITINERARY

Nama Tour      : Seaport of Belawan

Hari/ Tanggal   : 17 januari 2011

No Time Place Tour Description
1. 09.00 Nirvana hotel Start from Nirvana Hotel to our destination seaport of belawan.
2. 09.45 Seaport Belawan Arrive in seaport Belawan as our destination. Go up into the seaport to get more information about that seaport.
3. 11.00 Belawan Starting point back to our hotel
4. 11.45 Nirvana Hotel Arrive in our hotel and this is the end of our tour.

PORT OF BELAWAN

Kawasan Pelabuhan Belawan (Indonesia)

Latitude: 03″ 48′, South. Longitude: 98″ 43′, East Medan, ibukota Provinsi Sumatera Utara, NE Sumatera, Indonesia, di Sungai Deli., C.15 mi (25 km) dari mulutnya, dimana kota pelabuhan (Belawan) terletak. Kota terbesar di Sumatera dan terbesar keempat di Indonesia, Kota Medan, pemasaran komersial, dan transportasi tengah area pertanian kaya mengandung tembakau karet, besar dan perkebunan kelapa sawit. Kopi dan teh juga ditanam di sekitarnya. Industri meliputi produksi mesin dan ubin, dan perakitan mobil. Medan, gerbang menuju kawasan Danau Toba yang indah, merupakan pusat wisata, dengan bandara internasional; atraksi termasuk Masjid Agung (yang terbesar di Sumatera) dan Istana Sultan Deli. Pelabuhan Belawan telah memburuk luas rehabilitasi dan perbaikan tempat berlabuh kargo curah kering dan kelapa sawit loading terminal Ujun sistem baru, relokasi terminal penumpang dan pembangunan dermaga penumpang baru, dan pengadaan kontainer kontrol peralatan peti kemas Belawan merupakan pelabuhan tersibuk di Indonesia di luar Jawa. Crude Palm Oil (CPO) telah menjadi komoditas ekspor utama Belawan-pelabuhan laut menyusul kenaikan baru-baru di manajer permintaan produk perkebunan untuk menghadiri divisi humas PT Pelabuhan Indonesia-I Erwin Sutiyana, menyatakan disini pada tanggal 21 Februari 2007.

PT Pelabuhan Indonesia-I Cabang Pelabuhan Belawan

Daerah ini adalah tingkat lebih dari 30% komoditas ekspor Indonesia, membuatnya menjadi roda penggerak penting dalam perekonomian. Tembakau, kelapa sawit, teh dan karet diproduksi dalam jumlah besar, khususnya di sekitar Medan di bagian utara provinsi ini. kapal Pelni, teratur mengunjungi pelabuhan Belawan di Medan, di Selat Malaka. Pelabuhan ini awalnya dibangun pada tahun 1890, untuk menyediakan lokasi dimana tembakau dapat ditransfer secara langsung antara rel draft-kapal dalam dan interior. Pelabuhan diperluas pada tahun 1907 dengan pembangunan bagian baru yang ditujukan untuk pedagang Cina dan pribumi, ada pemesanan pelabuhan untuk pengiriman di Eropa. Dalam bisnis awal abad kedua puluh port diperluas, dengan pertumbuhan karet besar dan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara. Pada tahun 1920 beberapa dermaga utama dibangun. Pada tahun 1938, pelabuhan ini merupakan pelabuhan terbesar di Hindia Belanda, dalam hal nilai kargo. Cargo volume turun secara signifikan setelah kemerdekaan Indonesia, dan tidak mencapai tingkat pra-kemerdekaan lagi sampai pertengahan 1960-an. Sebuah restrukturisasi besar-besaran pada tahun 1985 melihat pembangunan terminal kontainer segera ditangkap sekitar seperlima dari ekspor kontainer Indonesia. Produk utama yang diekspor meliputi karet, kelapa sawit, teh, dan kopi.

KM Kelud Angkut 2.145 Orang

Berdasarkan jadwal, kapal yang berangkat adalah KM Kelud tujuan Batam- Tanjung Balai Karimun- Tanjung Priok. Jadwal keberangkatannya pukul 12.00 WIB. Sebelum kapal berangkat para penumpang sudah banyak di atas kapal dan penumpang yang terlambat naik ke dalam kapal diteriaki oleh penumpang yang sudah berada di atas kapal. Setelah kapal berangkat mereka memberikan lambaian tangan kepada saudara-saudaranya yang ikut mengantarkan untuk keberangkatan.

Data Adpel Belawan, jumlah penumpang yang berangkat 2.145 penumpang. Mayoritas penumpang tujuannya Batam sebanyak 1.571 orang, Tanjung Balai Karimun 282 orang, dan Tanjung Priok sebanyak 352 orang. Sedangkan penumpang tambahan yang langsung membeli tiket di tempat sebelum kapal berangkat yakni 210 orang. Menurut Sekretaris Posko Pelayanan Terpadu, BE Tarigan mengatakan tahun ini jumlah penumpang di Pelabuhan Belawan mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu yakni sekitar 10 persen. Lebih lanjut, Tarigan menuturkan jumlah keberangkatan dan kedatangan penumpang paling banyak dari Batam dan Tanjung Balai Karimun dengan menaiki kapal KM Kelud. Sedangkan penumpang paling sedikit naik kapal Lambellu. Selama lebaran belum pernah  mengalami lonjakan. Paling banyak 2.600 orang dan paling sedikit 1949 orang. Sementara kapasitas KM Kelud 2.652 orang, Kapal KM Cermai 2.740 orang dan Kapal KM Lambellu 2.513 orang.

INFORMASI UMUM

ALAMAT PELABUHAN

1. Alamat PELABUHAN : CABANG BELAWAN

Kelurahan : Belawan Bahagia

Propinsi : Sumatera Utara

Home page :

E-mail : webmaster@belawan port.coid

2. Status Pelabuhan : Umum

3. Jenis Pelabuhan : Konvensional

4. Alamat : Jl.Sumatera No.1 Belawan

5. Kode Pos : 20411

6. Telepon : 061-6941919/6941720

7. Faximile : 061-6941300

PETA LOKASI PELABUHAN

POSISI DAN WILAYAH KERJA PELABUHAN

A WILAYAH / SATUAN KERJA :

a. Perwakilan Pangkalan Susu/Brandan

b. Perwakilan Kuala Tanjung

B ANAK PERUSAHAAN / AFILIASI BISNIS :

1. Unit Usaha Terminal Petikemas

2. Unit Usaha Galangan Kapal

3. RS.Umum Pelabuhan Medan

4. Balai Pendidikan dan Latihan

SEJARAH / HIRARKI PERAN DAN STATUS PELABUHAN

Pelabuhan Belawan berada di dalam wilayah Kotamadya Medan yang terletak + 27 KM dari Pusat Kota, dimana juga terletak di Muara Sungai Belawan sepanjang pantainya labil dan berlumpur. Pengendapannya / sedimentasi rata-rata 3 Cm / hari ipengaruhi oleh Sungai Belawan dan Sungai Deli. Kecepatan arus juga dipengaruhi oleh kedua sungai tersebut ditambah dengan keberadaan Selat Malaka. Faktor musim juga mempengaruhi arah arus demikian juga kecepatannya. Dimana kecepatan arus pada saat tertinggi yaitu mencapai 3 Knot dan terendah 0.2 Knot Untuk pasang Surut dengan air tertinggi : 3,30 MLWS, air tinggi: 2,40 MLWS, air terendah: 0,50 MLWS, waktu tolak GMT + 07” dan sifat pasut : Harian ganda beraturan.

AGENTS

PT. Pelabuhan Indonesia
Jalan Krakatau Ujung 100
Belawan Medan-Indonesia
Phone : 62-61-610444
FAX : 62-61-610906

Medan (Belawan)
P. T. NYK Line Indonesia Medan Branch
Uniplaza Building
2nd Floor Stock Exchange
J1 Let Jend Mt Haryono No. A-1
Medan 20231, INDONESIA
Phone: 62-61-4-566888
FAX: 62-61-4-530154

Pt.Lintas Lautan Luas
88,k.H.Wahid Hasyim – Medan – Belawan
Medan / Belawan, North Sumatera, 20119
Phone : (62-61) 4151989 , 4151990
FAX : (62-61) 4529148

Transminco
21, P.Baru, 88,sei Wampu
Belawan, North Sumatra, 20151
Phone : (62-61) 4518104
FAX : (62-61) 4529148

JL. G. Krakatu 17A Medan
Tel: (061) 622524, 622526
Telex: 51514
Fax: (061) 610047

FASILITAS YANG DIMILIKI KAPAL KELUD

1.      Kamar yang terdiri dari beberapa kelas seperti kelas I A,I B, 2A, 2 B dan kelas economy dimana harganya juga berbeda-beda.Sedangkan fasilitas yang terdapat didalamnya juga sangat berbeda dilihat dari segi tempat tidu dan juga fasilitas yang lainnya.

Kelas Ekonomi

Kelas 2

Kelas 1

2.      Restaurant yaitu Tempat para penumpang untuk mengambil makanan. Dengan cara menunjukkan tiket, penumpang bias duduk manis menikmati makanan yang tersedia sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh ketentuan harga tiket.

3.      Bar dan karaoke

4.      Tempat untuk sembahyang.

5.      Bioskop dan game station

 

Kunjungan ke Vihara Budha Maitreya Februari 7, 2011

Filed under: Uncategorized — Manajemen Usaha Perjalanan @ 1:36 pm

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Praktik Guiding Pada Tanggal 11 Januari 2011

Nirvana Hotel ( AKPAR ) – Maha Vihara Budha Maitreya – Medan Zoo

 

Dari Yumna dan Zahara

 

Sejarah Berdirinya Vihara Budha Maitreya.

Ikuanisme, I Kuan Tao atau Yi Guan Dao (一貫道) adalah aliran bukan agama yang bermula dari Republik rakyat cina awal Abad ke-20. “I Kuan” berarti persatuan atau kesatuan, sementara Tao berarti jalan, kebenaran atau juga ke-Tuhan-an. Di Indonesia sering diterjemahkan sebagai Jalan Ke-Tuhan-an. Ajaran Ikuanisme menekankan ajaran moral berasal dari Tiongkok, menggabungkan aliran Konfusianisme, Taoisme danBuddha. Ikuanisme bukan aliran atau kepercayaanTaoisme.

I Kuan Tao di Indonesia dikenal sebagai agama Buddha Maitreya. I Kuan Tao berkembang di Indonesia berasal dari Taiwan sekitar tahun 1950-an. Di Taiwan, I Kuan Tao berdiri sendiri sebagai sebuah agama baru dan tidak mendompleng agama Buddha.

I Kuan Tao menyatakan bahwa pencipta alam semesta, bumi dan seluruh mahluk hidup adalah Tuhan yang berupa seorang Ibunda yang disebut Lao Mu. Lingkaran hidup bumi dan alam semesta adalah 108 000 tahun, dan kita berada dalam zaman terakhir dimana manusia telah hidup 60 000 tahun. Manusia sebagai anak-anak dari Tuhan (Lao Mu) karena telah terlalu lama di bumi, tersesat dalam hidup duniawi, terjerumus dalam dosa menyebabkan mereka hidup dalam roda reinkarnasi dan tidak bisa kembali ke Surga. Lao Mu sangat merindukan anak-anaknya di bumi ini, dan mengutus 10 Buddha untuk menyelamatkan anak-anaknya di bumi. 7 Buddha pertama telah datang saat bermulanya kebudayaan manusia, dan 3 Buddha terakhir mengemban tugas penyelamatan. Sehingga dibagi 3 zaman: Zaman Pancaran Hijau, Pancaran Merah, dan Pancaran Putih. Buddha Dipankara diutus saat Zaman Pancaran Hijau (sekitar 3000 SM) sampai lahirnyaSiddharta Buddha. Zaman Pancaran Merah bermula dengan diutusnya Siddharta Gautama. Zaman Pancaran Putih atau zaman terakhir bermula saat Buddha Maitreya diutus. Menurut Ikuanisme Buddha Maitreya telah datang ke dunia sebagai Guru ke-17 Lu Zhong I.

Sejarah resmi I Kuan Tao membagi perkembangan Tao dalam 3 periode. Periode pertama disebut sebagai 18 Sesepuh Pertama dari Timur, yang bermula dari awal adanya manusia. Sesepuh pertama adalah Fu Shi, tokoh mistis dari Tiongkok, pencipta pa kwa (8 triagram). Kemudian berlanjut ke tokoh mitos dan sejarah: Shen Nong (penemu pertanian), Huang Ti (Kaisar Kuning), diteruskan ke raja-raja Tiongkok, sampai Kong Hu Cu, dan terakhir Lau Ce (Penulis Tao Te Ching). Dikatakan bahwa karena perang saudara di daratan Tiongkok, menyebabkan Lao Ce membawa Tao ke India dan meneruskan keSiddhartra Gautama. Di sini bermula periode ke-2 yang disebut 28 Sesepuh dari Barat, bermula dari Siddharta Gautama, diteruskan ke Mahakassapa, dan menurut aliran Zen sampai terakhir Bodhidharma. Bodhidharma dikatakan membawa Tao kembali ke Tiongkok, dan bermulalah periode ke-3: 18 Sesepuh Terakhir dari Timur. Bermula dari Bodhidharma sampai sesepuh ke-6 Hui Neng (sama seperti aliran Zen). Dari sesepuh ke-7 bermula nama-nama dari sekte atau aliran bawah tanah Tiongkok. Guru ke-9 yang bernama Huan te Hui (1624-1690) adalah juga pendiri sekte “Shien Thien Tao” 先天道 (atau Jalan Surga Pertama). Aliran Shien Thien Tao masih ada di Indonesia dalam bentuk kelenteng kelenteng yang dipegang oleh Bhiksuni (Chai Ma). Sehingga disebutlah I Kuan Tao bercabang dari Shien Thien Tao. Dokumen dinasti Ching yang ditemukan belakangan ini menunjukkan bahwa Wang Cue Yi 王覺一, sesepuh ke-15, mendirikan aliran “I Kuan Ciao” (Agama I Kuan) di zaman dinasti Ching (sekitar tahun 1850). Sejarah I Kuan Tao menunjuk ke sesepuh ke-17 Lu Chong I 路中一 sebagai jelmaan Buddha Maitreya, merupakan awal Zaman Pancaran Putih (zaman terakhir) di tahun 1905.

I Kuan Tao mulai berkembang pesat saat sesepuh ke-18 Chang Thien Ran 張天然 memegang pemimpin. Sesepuh Chang lahir tahun 1889 pada tanggal Imlek 19 bulan 7, di Ji Ning, propinsi Shan Tong. Sesepuh Chang mengikuti aliran I Kuan Tao sejak tahun 1914. Sesepuh ke-17 Lu Zhong I yang dipercaya adalah jelmaan Buddha Maitreya melihat talenta Sesepuh Chang. Dan setelah meninggalnya sesepuh ke-17 tahun 1925, Sesepuh Chang diangkat menjadi sesepuh ke-18 tahun 1930. Sesepuh Chang dikatakan sebagai jelmaan Ci Kung, Buddha Sinting, atau disebut Buddha Hidup Ci Kung. Sesepuh Chang Thien Ran disebut sebagai Se Cun 師尊 (Bapak Guru Agung). Sesepuh Chang dikatakan atas mandat Lao Mu, menikahi Sesepuh Sun Su Chen 孫素真 yang disebut sebagai jelmaan Bodhisatwa Yek Huei 月慧菩薩 (Dewi Bulan Bijaksana). Sesepuh Sun Su Chen besama Sesepuh Chang Tien Jan menjabat sebagai sesepuh ke-18 I Kuan Tao. Sun dihormati sebagai Se Mu 師母 (Ibu Guru Suci).

I Kuan Tao menyebar pesat dari tahun 1930 sampai 1936. Dari tahun 1937-1947 selama kekuasaan Jepang, I Kuan Tao juga berhasil menarik penganut dari utara, tengah sampai selatan Tiongkok. Sesepuh Chang Tien Ran meninggal tahun 1947 saat komunis mulai berkuasa di Tiongkok.

Dengan meninggalnya Sesepuh Chang, dan berkembangnya komunis di China, I Kuan Tao tidak dalam keadaan yang bersatu. Para muridnya secara tersendiri melarikan diri ke Hong Kong dan Taiwan. Sesepuh Sun Su Cen (Se Mu) mengambil alih kedudukan dan membawa ajaran Ikuanisme ke Hong Kong dan Taiwan. Dari Taiwan I Kuan Tao berkembang pesat dan menyebar ke Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand). Sementara itu, para murid Sesepuh Chang secara individual menyebarkan ajaran I Kuan Tao, sehingga muncul kelompok-kelompok Ikuanisme dengan sesepuh atau pemimpin yang berbeda-beda. Di Taiwan, I Kuan Tao mulai resmi diakui pemerintah sejak tahun 1987.

 

 

Aliran Buddha Maitreya di Indonesia

Vihara Maitreya di Indonesia

I Kuan Tao bermula di Indonesia di tahun 1949 di Malang oleh seorang pengikut I Kuan Tao dari Taiwan bernama Tan Pik Ling (Hokkian) atau Chen Po Ling (Mandarin) atau dikenal sebagai Maitreyawira (Indonesia). Tan adalah seorang dokter gigi, pertama sekali datang ke Indonesia sejak tahun 1930. Ia dikatakan diutus oleh Se Mu (Ibu Guru Suci) dan Pan Hua Ling 潘華齡 pemimpin Kelompok Pau Kuang 寶光組. Sejarah lain dari kelompok Pau Kuang Cien Te 寶光建德 mengatakan bahwa sesepuh Li Su Ken 呂樹根 mengutus Tan Pik Ling ke Indonesia. Vihara Maitreya pertama didirikan di Malang bernama Chiao Kuang di tahun 1950. Vihara ini adalah Fo Tang 佛堂 pertama yang berdiri di luar China dan Taiwan. Di bawah pimpinan Tan, Ikuanisme (Buddha Maitreya) berkembang pesat ke Surabaya, Jakarta, Medan, Pontianak dan seluruh Indonesia. Tan meninggal tahun 1985. Di Indonesia, I Kuan Tao menempel sebagai agama Buddha, karena pemerintah hanya mengakui 5 agama resmi. Sehingga di Indonesia Buddha Maitreya muncul sebagai aliran agama Buddha, membentuk Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (MAPANBUMI) dan bernaung di bawah Walubi.

Se Mu 師母(Ibu Suci) sewaktu di Taiwan berada di bawah asuhan Wang Hao Te 王好德 (atau sesepuh Ong) selama 11 tahun, Wang sendiri adalah pengikut kelompok Pao Kuang 寶光組. Dengan meninggalnya Se Mu 4 April 1975, Wang Hao Te mengaku sebagai penerus asli Ikuanisme yang diangkat oleh Se Mu. Hanya melalui beliau Kuasa Firman Tuhan Tien Ming dapat diberikan, Sesepuh Ong mengaku sebagai penerus Benang Emas yang sejati. Banyak kelompok I Kuan Tao yang menolak sehingga Wang Hao Te membentuk aliran sendiri yang disebut Tao Agung Maitreya 彌勒大道. Tan Pik Ling di Indonesia yang juga pengikut kelompok Pao Kuang memutuskan untuk bergabung dengan Wang Hao Te.

Ikuanisme membentuk organisasi sendiri dengan kantor pusat di El Monte, California, pada tahun 2000 membentuk organisasi I Kuan Tao Indonesia dan Yayasan Eka Dharma (dari kelompok Pau Kuang Cien Te). I Kuan Tao tidak mengakui aliran Maitreya dan sebaliknya juga. Namun aliran Buddha Maitreya di Indonesia jauh lebih pesat dan lebih banyak pengikutnya daripada I Kuan Tao.

Aliran Buddha Maitreya berkembang sebagai agama unik Indonesia. Aliran ini mengadopsi istilah-istilah Indonesia dan Sansekerta Buddha. Disebabkan juga oleh tekanan pemerintah ORBA yang melarang penggunaan bahasa Mandarin, liturgi dan upacara keagamaan juga menggunakan Bahasa Indonesia. Larangan juga untuk menggunakan patung-patung non-buddhis (seperti Kuan Kong). Dalam era reformasi sekarang, vihara Maitreya kembali lebih bebas menggunakan bahasa Mandarin. Vihara Maitreya di Indonesia juga unik, berciri khas tercantum kalimat “Tuhan Maha Esa” dan mengikuti perayaan Buddha seperti Waisak, Kathina, dan menggantungkan gambar Siddharta Buddha. Walaupun dalam perayaan-perayaan ini, aliran Maitreya mempunyai cara sendiri yang mana tidak berhubungan dengan perayaan yang sebenarnya. Ciri-ciri ini jarang ditemukan di vihara Maitreya di Taiwan, karena I Kuan Tao mengajarkan bahwa agama Buddha telah ketinggalan zaman, dan sekarang adalah zaman Buddha Maitreya.

Ajaran I Kuan Tao mengajarkan pantangan-pantangan seperti yang umat Buddha awam percaya, Sang Buddha Siddharta Gautama berikan. Berbagai doktrin dan filosofi dipelajari serta diajarkan kepada umat I Kuan Tao, termasuk falsafah Konfusius dan filosofi/akhlak kehidupan seperti San Zi Jing (三字经/三字經). Pengikutnya ditekankan untuk menghormati kepercayaan dan penganut Agama lainnya. Aliran Maitreya juga diterima baik oleh kalangan masyarakat di Amerika Serikat.

Aliran Maitreya berkembang paling pesat di antara aliran Buddha di Indonesia. Para pengikut aliran Maitreya dianjurkan untuk menjadi vegetarian, dan menyebarkan ajaran ini dengan membawa teman atau saudara untuk memohon jalan ke-Tuhan-an.

Sejarah lengkap dapat ditemukan dalam makalah penelitian antropologi dari Amerika dan Eropa. Makalah terlengkap oleh David Jordan dalam bukunya The Flying Phoenix.

Penyebaran vihara Budha Maitreya Sudah sangat banyak di Indonesia. Salah satunya terdapat di Medan yang dikenal dengan nama Maha Vihara Budha Maitreya.

General Information Maha Vihara Budha Maitreya

Di Medan Sendiri Maha Vihara Maitreya terletak di Jalan Cemara Boulevard Utara No 8 Kompleks Perumahan Cemara Asri, lokasi berdirinya Maha Vihara Maitreya, yang terbesar di Asia Tenggara. Masuk dari jalan utama kompleks kemudian berputar melewati sirkuit gokart maka tampaklah bangunan berwarna orange anggun berdiri di sana. Relief naga di bagian depan dua bangunan memberi kesan kekuatan.
“Kita memang yang terbesar di Asia Tenggara makanya namanya Maha Vihara Maitreya      bukanVihara,”
Sesuai dengan namanya, hampir setiap bagunan menampilkan patung Budha Maitreya, sosok dengan perut besar dan selalu tersenyum. Kabarnya, semua patung didatangkan dari daratan Tiongkok-Taiwan. Ditemani Herman, Sumut Pos pun memulai perjalanannya dari Gedung A, bagian paling kanan gedung. Gedung dengan luas 96x 30 meter terdiri dari empat lantai.

Lantai I diperuntukkan untuk perkantoran dengan luas 10×8 meter. Terdapat 10 kantor di situ. Sementara lantai dua, tiga, dan empat merupakan mes bagi pengurus. Lantai dua berisi 32 kamar, lantai tiga ada 26 kamar dan lantai empat ada 16 kamar berukuran 10×4 meter. Ini menunjukkan bagaimana pengelolaan yang dilakukan menggunakan metode yang profesional.

Di pintu masuk, pengunjung akan disambut oleh Patung Budha Maitreya yang terbuat dari kayu Hong, jenis dari Taiwan yang selalu menyebarkan bau harum yang khas. Begitu pun di pintu samping gedung sekretariat ini ketiga patung Budha Maitreya didampingi oleh Bodi Satva Kwan Im dan Panglima Perang, Bodhisatva Satyakalama atauKwanKong.

Di bagian samping Gedung Sekretariat ini dipajang lonceng berukuran besar yang disebut Kuai Le Zhong atau Genta Kebahagiaan. Genta berbobot tujuh ton itu didatangkan dari Tiongkok, posisinya digantung pada bangunan yang menaunginya. Tampak di sisi genta terukir aksara Tiongkok yang berisikan Dharma Hati. “Dharma Hati ini merupakan ajaran untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup,” jelas Herman.
Genta raksasa ini merupakan tujuan wajib para pengunjung yang datang ke Maha Vihara Maitreya. Tidak hanya untuk mengagumi, para pengunjung dipersilakan untuk membunyikan genta dengan kayu pemukul yang dipasang di sebelahnya. “Dengan memukul genta sebanyak tiga kali diharapkan akan membawa kebaikan dan rezeki kepadanya,”tambahnya.

Setelah Gedung A, perjalanan pun dilanjutkan ke sebelahnya yaitu Gedung B yang kalau dilihat dari depan merupakan gedung tengah. Menuju ke bagian tengah melintasi kolam Bodhisatva Kwan Im yang berada di antara Gedung A dan Gedung B. Tampak patung Bodhisatwa Kwan Im berwarna putih berdiri tegak di atas seekor naga dengan latar relief yang menggambarkan alam kehidupan nirwana. Patung Bodhisatva Kwan Im ini diapit oleh dua jembatan kebahagiaan di sebelah kiri dan jembatan kesehatan di sebelah kanan.

Beberapa ekor ikan koi beraneka warna berenang bebas di kolam memberi kesegaran dan kenyamanan saat berada di situ. “Orang berkunjung kemari tidak hanya untuk beribadah, bisa juga rekreasi. Dengan rekreasi segala penat akan hilang dan kembali bersemangat dalam menjalani kehidupan ini,” terang Herman.

Di gedung inilah terletak Altar Utama tepatnya di lantai dua disebut juga dengan Graha Maitreya (Mi Le Bao Dian) dengan ukuran 96×38 meter dan berdaya tampung seribu orang. Di sini terdapat Patung Budha Maitreya dengan pose duduk bersila. Patung setinggi tujuh meter ini terbuat dari tembaga yang didatangkan dari Taiwan. “Karena terlalu besar patungnya dirakit di Indonesia. Dari Taiwan kita datangkan lempengan patungnya,”beberHerman.

Di bagian belakang Altar Utama terdapat Graha Leluhur dengan luas 8 x 28 meter. Di situ terdapat lima papan berisikan nama kelima sesepuh yang disusun sesuai urutannya. Pintu dengan gaya khas Tiongkok memberi kesan tersendiri di bagian ini.
Turun ke lantai I terdapat Graha Sakyamuni (Da Xiong Bao Dian), Graha Guan Yin (Guan Yin Bao Dian), dan Graha Guan Gong (Guan Sheng Bao Dian). Tampak juga relief yang menceritakan Bodhisatva Kwan Im di sebelah kanan dan relief mengenai Bodhisarva Kwan Kong di sebelah kiri. Bangunan ini ditopang oleh 12 pilar polos.

Sementara di bagian luar terdapat delapan pilar naga. Ke delapan pilar ini seperti mengapit patung Budha Maitreya yang membawa kantung kebahagiaan serta sekeping emas di tangan kanannya. Menurut Herman, semua pengunjung dipastikan menghampiri untuk mengelus perut sang kebahagiaan ini. “Sampai perut sang patung Budha ini lecet karena memang semua pasti mengelus perut. Diyakini akan mendatangkan rezeki,” kata Herman seraya mengelus perut patung Maitreya dengan kedua tangannya.

Bagian akhir yaitu Gedung C dengan luas 96 meter x 30 meter terdiri atas tiga lantai. Adapun lantai satu adalah Teko Healty Resto berukuran 80 meter x 30 meter. Seperti namanya, restoran ini merupakan pusat jajanan ala vegetarian. “Budha Maitreya merupakan vegetarian maka kita pemujanya juga penganut vegetarian,” lanjutnya.

Di antara Teko Healty Resto dan Gedung B terdapat sebuah tempat bermain bagi anak-anak. Tampak replika kapal laut dilengkapi dengan celah yang sangat disukai anak-anak juga beberapa miniatur untuk bermain. Patung Bodhisatva Kwan Im yang didampingi patung malaikat kecil seolah menjadi saksi kebahagiaan mereka.
Di sisi luar resto, terdapat sebuah patung teko berwarna hijau. Bila dilihat sekilas, teko yang terus menuangkan air ke dalam cangkir ini seolah terbang. Kesan Teko Terbang ini pun kian nyata saat menyaksikannya di malam hari.

Bagian lain dari gedung C ini adalah serbaguna hall yang berada di lantai dua dan Sky Convention Hall di lantai tiga. Kedua bahagian ini dapat digunakan untuk kegiatan umum. Bahkan beberapa kali konser telah digelar di Sky Convention Hall. “Ruangan menggunakan pengedap suara jadi dipastikan tidak akan mengganggu kegiatan ibadah bila berlangsung bersamaan. Sky Convention Hall ini dapat menampung 3.000 orang,” papar Herman.
Kedatangan ke Maha Vihara Maitreya ini tidak akan lengkap bila tidak membawa cenderamata. Untuk souvenir tadi bisa didapatkan di Souvenir Shop yang satu bagian dengan Teko Healty Resto. Di situ dapat ditemui miniatur Maha Vihara Maitreya dari ukuran kecil hingga besar juga dalam beberapa pose. Demikian pula patung Budha Maitreya, Bodhisatva Kwan Im, Bodhisatva Kwan Kong, Sakyamuni (Sidarta Gautama) yang dibuat dengan beberapa bahan. Dua jam tak cukup rasanya melihat kemegahan dan keunikan di Maha Vihara Maitreya.

By Yumna dan Zahara

 

Uji Kompetensi/Sertifikasi Desember 3, 2010

Filed under: Uncategorized — Manajemen Usaha Perjalanan @ 3:32 am

Att : All Upper MUP III/Va

Akademi Pariwisata Medan telah memiliki Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSPP1) yang bertugas untuk menjamin profesionalitas setiap mahasiswa Akpar Medan, melalui uji kompetensi/sertifikasi. Untuk tahun ini, uji kompetensi akan dilaksanakan pada 20-22 desember 2010, bertempat di Akademi Pariwisata Medan.

Oleh sebab itu, jangan lewatkan kesempatan ini. Banyak manfaatnya berpartisipasi dalam kegiatan ini, selain dapat menguji sejauh mana keterampilan/kompetensi yang telah Anda miliki, Anda juga berhak mendapat sertifikat yang berlaku secara global (nasional/internasional) pengakuan keahlian/kompetensi jika Anda lulus.

FREE . . .

Uji kompetensi yang dilaksanakan oleh LSPP1 Akpar Medan ini gratis, alias tidak dipungut biaya!!!

 

Persyaratan :

1. Mengisi formulir PKT (bisa diminta ke kantor LSPP1 Akpar Medan, di gedung rektorat lantai 2, di sebelah Toba Meeting Room)

2. Pas foto 2 lembar, ukuran 3×4 (berwarna, background disesuaikan)

3. Photocopy sertifikat magang/PKL 1 lembar. Bagi mahasiswa yang belum memperoleh sertifikat magang, bisa menghubungi Bagian Administrasi Mahasiswa untuk memperoleh surat keterangan telah melaksanakan magang

 

4 further information, feel free to contact us (Prodi MUP/LSPP1 Akpar Medan)

 

Welcome Party n Get Together ala MUP Desember 1, 2010

Filed under: Program MUP — Manajemen Usaha Perjalanan @ 3:25 am
Tags:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

 

Our Nature is our Life . . . .

Itulah tema acara welcome party & Get Together (GeTe) yang diselenggarakan oleh Prodi Manajemen Usaha Perjalanan (MUP) Akpar Medan, pada Sabtu, 27 November 2010. Dengan tema tersebut, diharapkan semua unsur di Prodi MUP menyadari pentingnya bersahabat dengan alam dan menjalin hubungan yang saling menguntungkan dengan lingkungan. Di dunia pariwisata sendiri dikenal adanya istilah ecotourism & sustainable tourism, sebuah konsep pariwisata yang berbasis masyarakat local dan lingkungan yang pada akhirnya akan melanggengkan keberlangsungan aktivitas pariwisata itu sendiri.

Agar lebih meresapi tema acara, seluruh mahasiswa MUP yang mengikuti acara Welcome Party & GeTe, diwajibkan menggunakan baju yang bernuansa hijau. Menurut ketua panitia, M. Khadry (Mahasiswa MUp III/IIIA), hijau merupakan warna yang paling pas untuk disandingkan dengan tema acara, karena hijau selaras dengan warna dedaunan yang merupakan warna mayoritas ketika kita membayangkan alam yang permai.

Sedikit kendala dihadapi di awal acara, karena hujan deras yang tidak kunjung berhenti. Disebut kendala karena hampir keseluruhan rangkaian acara Welcome Party dan GeTe  dirancang untuk diselenggarakan di lapangan terbuka (outdoor). Namun dengan cerdasnya, panitia mengubah susunan acara, sehingga hal tersebut tidak mengurangi sedikit pun kegembiraan peserta. Sambil menunggu hujan reda, diselenggarakanlah parade mahasiswa basic untuk lebih mengenal mahasiswa-mahasiswa pendatang baru di Prodi MUP. Satu per satu mahasiswa basic diminta untuk tampil dan  bergaya ala model di panggung dadakan.  Walaupun kurang sesuai dengan rencana, namun parade mahasiswa basic ini menjadi warming-up acara dan menambah antusias setiap individu untuk menyaksikan acara Welcome Party dan GeTe ini sampai selesai.

Setelah parade mahasiswa basic, acara dilanjutkan dengan rangkaian acara semi formal, yaitu pembukaan acara Welcome Party & GeTe. Dimulai dengan kata sambutan Ketua Panitia, yang menghimbau agar tema acara kali ini benar-benar dijiwai karena alam bukan hanya sesuatu untuk dimanfaatkan saja, namun juga untuk diberdayakan. Dilanjutkan dengan kata sambutan dari Ibu Hetty Claudia Nainggolan selaku Kaprodi MUP yang meyakinkan semua peserta bahwa acara Welcome Party dan GeTe ini akan tetap berjalan baik, walaupun hujan di luar sana turun dengan derasnya, karena panitia yang meng-handle acara ini merupakan mahasiswa terpilih dan kandidat terbaik EO professional. Terakhir, sebagai simbolisasi pembukaan acara, diadakan penyematan Pin Kebanggaan MUP kepada beberapa orang mahasiswa.

Oiya, menyinggung masalah PIN Kebanggaan MUP, PIN ini dirancang sedemikian rupa agar tidak hanya indah dan eye-catching, tapi juga bermakna. Ada 2 kaki pada salah satu bagian PIN yang menjadi symbol ‘perjalanan’, karena seluruh mahasiswa MUP nantinya diharapkan mampu dan kompeten bergerak  di usaha perjalanan wisata ini, baik menjadi guide, tour planner maupun ticketing/reservation officer. Warna Oranye yang merupakan dasar dan mayoritas warna pada PIN merupakan warna symbol MUP di civitas AKPAR Medan. Oranye merupakan  warna yang sangat cerah, membangkitkan semangat, fresh dan natural.  Oranye juga representasi dari warna yang enerjik, aktif, kreativitas, antusias dan kebahagiaan. Warna-warna lain yang ada pada PIN ini membentuk rangkaian kata : ‘T n T, Tours and Travel’ yang terdiri atas warna Merah, Kuning, Hijau, Abu-abu dan Hitam. Keseluruhan warna itu merupakan  representasi dari  perjuangan, keberanian, spontanitas, toleransi, ketabahan, kesegaran, harapan, kekuatan dan keanggunan.

Well, tidak lama kemudian cuaca menjadi bersahabat. Hujan yang deras mulai reda dan berhenti dengan sempurna. Acara welcome party dan GeTe pun dilanjutkan di halaman MUP.

No Bullying!!!

Fokus acara Welcome Party dan GeTe ini adalah menumbuhkan kebersamaan antar mahasiswa, sehingga mereka merasa nyaman bergaul dengan abang/kakak kelas, sesama angkatan dan adik-adik kelasnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka tidak diperkenankan ada bullying. Yang ada hanya kegiatan-kegiatan yang menyenangkan seperti bernyanyi, menari, games dan kabaret.

Tarian yang ditampilkan ada 2 macam, yaitu tari tradisional dan modern dance. Tari tradisional dibawakan oleh anak-anak Middle yang menggambarkan kehidupan keseharian suku Batak, sebagai suku mayoritas di Sumatera Utara ini. Sedangkan Modern Dance dibawakan oleh anak-anak basic dengan pakaiannya yang merah menyala dipadukan dengan warna hitam. Kedua atraksi ini sangat memukau, karena terdapat beberapa aksi yang mengundang gelak tawa dan membuat penonton menahan napas.

Games yang dilakukan beragam dan tak kalah menghibur. Games dimulai dengan pertandingan yel-yel, lalu aksi mengikat ember dengan tali di pergelangan kaki dan games make-up dengan mata tertutup. Setiap kelompok dinilai pada setiap sesi oleh tim juri dan diberikan penghargaan bagi 3 kelompok yang memperoleh nilai tertinggi di akhir acara.  Tim juri terdiri atas Ibu Hetty, bu Liyush dan Pak Naryo.

Untuk acara bernyanyi, hampir setiap orang tidak mau ketinggalan peranannya. Ada yang bernyanyi, menari dan mengambil gambar.  Tarian missal tidak pernah ketinggalan jika nyanyiannya mendukung.  Berkali-kali rombongan mahasiswa, baik basic, middle dan upper menari bersama di panggung dan di halaman panggung dengan senyum dan keakraban.

Ada 1 lagi penampilan keren yang dibawakan oleh mahasiswa basic pada acara Welcome Party dan GeTe, yaitu kabaret dengan judul ‘aku dan Sang Pencipta’. Kabaret ini merupakan sindiran atas kehidupan manusia yang kadang gamang dan mudah terpengaruh atas lingkungan. Kabaret ini juga menggambarkan pertentangan kebaikan dan keburukan yang setiap saat ada, dimana manusia sendiri memiliki fitrah untuk berada di jalan yang benar, sesuai dengan petunjuk Sang Penciptanya.

Tidak sampai disana saja, acara puncak Welcome Party &  GeTe ini adalah acara barbecue ayam dan makan malam bersama. Seksi konsumsi siap siaga melayani mahasiswa  dan dosen pada sesi ini. Ada potongan ayam gurih yang telah dibakar, nasi hangat, sambal kecap yang muantap diiringi potongan semangka dan sirup merah. Hmmm yummmyyyy . . . . Gelegar kebersamaan benar-benar lengkap dengan hidangan lezat seperti itu.

Acara Welcome party dan GeTe ini dihadiri juga oleh dosen-dosen MUP dan ‘sekitarnya’. Heheheeeee. Ada Ibu Lorisma yang datang bersama Tobias yang lucu, Pak Fetrios, Bu Hetty, Bu Liyush, Pak Naryo, Pak Ede, Pak Hirsan, Bu Femmy dan Om, serta beberapa alumni tidak ketinggalan untuk ikut berpartisipasi. Acara yang dimulai dari pukul 10 pagi hingga pukul 10 malam ini menyisakan kenangan yang indah tentang kebahagiaan jika bersama.

TnT, Go    Go   ..  ..  ..



Written By : Admin MUP
Picture By : Ghani MUP III/Va (http://www.facebook.com/profile.php?id=100000845947344#!/photo.php?fbid=177881238891714&set=a.159281557418349.37470.100000095184248)

 

Praktik Guiding ke Graha Maria Annai Velangkani

Filed under: TOP News — Manajemen Usaha Perjalanan @ 1:42 am
Tags:

Oleh : Murni & Ghani (MUP III/Va)

Mahasiswa MUP Akpar Medan

Graha Annai Velangkani


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jadwal Pelaksanaan

Hari, tanggal                      : Senin, 22 November 2010

Waktu                                        : 13.30 WIB

Lokasi                                        : Graha Maria Annai Velangkani

Durasi                                       : 30 menit

Guide                                         :

“Bill, Valent, Tari, Alent, Lola, Ade, Edy, Selsy, Nadya”

  • KEGIATAN

Tiba di Graha Maria Annai  Velangkani pada pukul 14.30 wib. Mahasiswa  MUP III-1a mengelilingi  Velangkani dari area depan,lantai 2,sampai area depan Velangkani dipandu oleh beberapa mahasiswa yang bertugas di departemen Guiding. Disana mahasiswa belajar tentang sejarah berdirinya Velangkani. Sebelum kembali ke kampus mahasiswa mengambil air suci di dalam botol yang telah sediakan oleh Graha Maria Annai Velangkani. Kemudian mahasiswa kembali ke kampus pada pukul 16.30 wib.

  • Sejarah Graha Maria Annai Velangkani

Berikut sejarah berdirinya Graha Maria Annai Velangkani :

Graha Maria Annai Velangkanni adalah sebuah tempat wisata iman bagi umat Katolik yang terletak di Taman Sakura Indah, Jl. Sakura III No. 10, Tanjung Selamat, Medan yang dibangun tahun 2001 – 2005 sebagai tempat untuk berziarah dan berdevosi kepada Bunda Maria Penyembuh Orang Sakit (Our Lady of Good Health)… Disana terdapat bangunan yang unik banget! Gereja yang arsitekturnya india abiss!!! Dengan Fasade yang bentuknya seperti candi india yang umumnya ada di tempat-tempat ibadah agama hindu.
Asal usul dari devosi Annai Velangkanni dimulai pada abad ke-17 dimana Bunda Maria yesus-dan-wanita-samariapernah menampakkan diri di Vailankanni, sebuah dusun pesisir Tanjung Benggala di bagian India Selatan di Provinsi Tamilnadu dan telah melakukan berbagai mukjizat penyembuhan baik jasmani maupun rohani. Maria Annai sendiri berarti bunda Maria dalam bahasa Tamil. Puluhan ribu orang datang setiap harinya untuk berziarah ke tempat suci ini penuh dengan iman dan pengharapan untuk mengalami kuasa Tuhan dalam doa dan permohonannya. Sri Paus Yohannes ke-23 telah menjuluki tempat ziarah itu sebagai “Lourdes dari Timur” dan mengangkat statusnya sebagai BASILIKA.

Graha Annai Velangkanni Tanjung Selamat bukan sebuah duplikat Basilika Vailankanni itu, karena bentuk bangunan Graha ini sama sekali original dengan penuh makna melalui bentuk arsitektur, simbol-simbol yang menceritakan sejarah kejadian dunia dan keselamatan umat manusia seperti yang tercantum dalam Kitab Suci dan ajaran Gereja Katolik.

Dari alamat yang tertera jelas tempat itu masih didalam kota Medan, yaitu didaerah Medan barat daya di kecamatan Tuntungan, kelurahan Tanjung Selamat, dijalan Sakura 3, dekat perumahan Taman Sakura Indah. Ada cukup kendaraan umum yang melewati jalur itu tetapi jika anda bukan warga Medan sebaiknya naik taksi karena jalannya lumayan jauh dari pusat kota. Itu barangkali termasuk daerah pinggiran karena didaerah itu jalannya relatif sepi, meskipun jalur jalan 2 arah terpisah yang membelah jalan TB Simatupang cukup lebar. Dari jalan ini cari papan billboard besar dipinggir jalan yang menunjukkan lokasi Graha Annai Velangkanni. Dari jalan raya cuma sekitar 150 masuk kedalam gang yang tidak begitu besar. Begitu sampai di pintu gerbangnya yang bagian atasnya dihiasi ornamen rumah tradisional Batak, maka anda akan terpesona oleh arsitektur bangunannya yang bergaya Indo-Mogul, mirip dengan kuil Hindu. Jika baru pertama kali kesitu dan tidak tahu apapun tentang Annai Velangkanni tentu anda akan terheran-heran, bangunan apa itu, seperti yang diungkapkan sopir taksi yang mengantar penulis. Bentuk bangunan yang tidak lazim dan menjulang itu kontras dengan keadaan bangunan sekitarnya sehingga keberadaannya sangat menarik perhatian. Setelah mendekat barulah tampak keistimewaan lainnya, yaitu seluruh bangunannya dipenuhi dengan ornamen dan lukisan baik disebelah dalam maupun diluar. Ini bukan sembarang ornamen karena setiap ornamen punya makna tersendiri sehingga secara keseluruhan bangunannya dipenuhi oleh simbol-simbol yang penuh makna, dan ini dimaksudkan sebagai bagian dari proses sebuah perziarahan. Hal itu diungkapkan sendiri oleh pastur James yang setelah diperkenalkan oleh seorang penjaga kemudian mau repot-repot untuk menyertai penulis berkeliling sambil menjelaskan tentang makna pada ornamen di seluruh bangunan.

Proses peziarahan dimulai sejak dari pintu masuk, dimana pada aspal tergambarkan bentuk rupa manusia yg sedang rebah dengan tangan kedepan seolah-olah merangkul bangunannya, sedangkan pada bangunannya ada jalan melingkar dikiri kanan sebagai simbol lengan Bunda Maria merangkul umat yang datang. Jalan melingkar ini menuju lantai dua dari bangunan dimana terdapat gerejanya dan dijalan melingkar ini juga penuh simbol. Ada 40 lampu penerang, terbagi menjadi 20 dijalan kiri dan kanan, menggambarkan 40 tahun umat Allah berjuang di padang gurun sebelum memperoleh negeri yang dijanjikan Allah kepada nenek moyang mereka. Lampu ini adalah simbol penerang jalan dalam proses mencari Tuhan. Pada dinding jalan itu ada ornamen tentang penciptaan dunia dan segala isinya mulai hari ke satu sampai ke enam, dimana akhirnya Allah beristirahat di hari ke tujuh. Dipintu masuk pada bagian atas ada Rosario yang melingkari seluruh bangunan mulai dari depan sampai belakang. Bangunannya terdiri dari tujuh tingkat dimana tingkat 2 keatas berupa menara, ini simbol dari 7 lapis langit dimana paling atas bertahta Allah Bapa. Ada 3 kubah di bangunan ini dimana kubah paling atas sebagai simbol Allah Bapa dan dikiri-kanannya merupakan simbol Allah Putra dan Roh Kudus. Pada lantai dua dibagian depan ada patung Annai Velangkanni, berbeda dengan gambaran penampakan Bunda Maria yang biasa kita kenal, Bunda Maria yang satu ini bermahkota dan memakai pakaian keemasan sambil menggendong seorang anak kecil, yang merupakan putranya yaitu Yesus. Ini sesuai dengan gambaran dalam peristiwa mujizat yang menyertai penampakan Bunda Maria di Velangkanni. Jadi kalau simbol ini disatukan bisa berarti Bunda Maria menerima umat yang datang merebahkan diri melewati jalan yang sulit untuk bertemu dengan Allah yang merupakan pencipta langit dan bumi, sungguh suatu kombinasi simbol dari bangunan yang luar biasa.

Dikiri-kanan bangunan pada jendelanya, ada deretan peristiwa jalan salib yang dioramanya terbuat dari besi yang dirangkai. Jadi jika ingin melakukan jalan salib harus jalan melingkari bangunan tersebut dan menengadah keatas untuk melihatnya karena letaknya cukup tinggi. Sebenarnya bisa juga dari dalam gerejanya tetapi jalan dibagian dalam sempit dan diorama jalan salibnya akan terlihat terbalik jika dilihat dari dalam. Dibawah diorama jalan salib ini ada lukisan kaca yang menggambarkan 20 peristiwa misteri Rosario, yaitu masing-masing 5 peristiwa gembira, sedih dan mulia, serta peristiwa terang/cahaya yang belum lama diperkenalkan. Dibawahnya ada rangkaian Rosario yang melingkarinya mulai dari depan bangunan. Yang juga menarik adalah adanya simbol burung disekeliling bagunan, letaknya antara diorama jalan salib dan 20 peristiwa misteri Rosario, ini bisa berarti simbol Roh Kudus, akan tetapi menurut perancangnya ini adalah simbol dari legenda India tentang burung Annam yang banyak terdapat pada kuil Hindu yang merupakan simbol tentang ajaran kebenaran.
Lantai dasar merupakan ruang terbuka yag diberi nama aula Santa Anna, pada pintu masuk ada prasasti peringatan pembangunan graha ini. Tertulis nama keluarga dari Singapura yang mendanai 30% tempat itu, juga tertulis Johanes Tarigan sebagai konsultan konstruksi dan seniman amatir G.R Andreas, seorang Tamil lokal yang membuat ornamen dan gambar. Pada saat itu foto-foto peresmian Graha Maria tanggal 1 Oktober 2005 lalu, masih dipajang didepan pintu masuk. Didepan pintu masuk ada kolam dan air mancur, dilengkapi dengan patung yang menggambarkan peristiwa Yesus bertemu dengan perempuan samaria di sumur Yakub.

Dilantai satu terletak gerejanya yang unik karena dipenuhi berbagai lukisan dan ornamen yang sangat indah. Di pintu masuk ada patung rasul St. Petrus sebagai rasul segala bangsa dan St. Fransiskus Xaverius sebagai rasul bangsa Asia, ia adalah misionaris Jesuit pertama yang datang ke India. Begitu masuk, mata akan dimanjakan oleh pemandangan indah dari seluruh ornamen dan lukisan yang menutupi dinding sampai keatapnya. Pada ruangan tersebut terdapat balkon kecil disamping kiri-kanan, dari disitu bisa dilihat diorama jalan salib yang terbuat dari besi tetapi jika dari dalam maka gambarnya terlihat terbalik, dari balkon ini ada tangga kecil menuju ke menara. Begitu masuk maka mata langsung melihat ayat yang indah dari Matius 11:28, “Datanglah Padaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan bagimu”, ini sebagai ajakan bagi umat yang datang mencari Tuhan. Tulisan tersebut diletakan tinggi di depan altar. Pada setiap tiang penyangga terdapat patung para Rasul. Pada dinding samping terdapat cuplikan dari Alkitab dalam 4 bahasa: Indonesia, Inggris, India dan China, yaitu tentang 8 sabda bahagia yang merupakan inti dari ajaran Kristen. Atap bangunan dihiasi oleh lukisan 7 sakramen utama dalam agama Katolik. Bagian belakang altar dihiasi oleh lukisan perjamuan terakhir dan diatasnya ada diorama penyaliban Yesus, disamping kiri altar ada patung Annai Velangkanni yang lebih kecil. Ada kubah diatas altar yang dipenuhi lukisan indah tentang penciptaan Adam (meniru mahakarya Michael Angelo di Kapel Sistine), lukisan tentang kedatangan Yesus pada akhir zaman dan lukisan pengangkatan Maria ke surga. Jika kita perhatikan dari atas balkon maka lantai gereja ini akan membentuk salib yang sangat besar. Maka jika makna simbol dari luar dan dalam disatukan, bisa berarti ini adalah gambaran sejarah keselamatan manusia mulai dari awal penciptaan sampai kedatangan Yesus untuk menebus dosa manusia dan akhirnya sampai pada akhir zaman. Jika anda memahami simbol-simbol yang terkandung pada seluruh bangunan ini maka akan memberikan nilai religius yang lengkap dalam ziarah anda, sungguh suatu karya monumental yang luar biasa.

Diluar gedung pada samping kanan ada taman mini, ini istilahnya saja taman tetapi sesungguhnya adalah semacam bangunan kecil sebagai peringatan untuk mengenang Giovanni Paolo 2 (seperti tertulis pada gerbang masuknya) itu adalah bahasa Italia untuk Johanes Paulus 2, Paus yang wafat tahun 2005 yang lalu. Ada lukisan kenangan tentang kunjungan Paus Johanes Paulus 2 di Sumatera Utara waktu dulu. Disamping taman mini ini ada kantor kecil, lalu disampingnya lagi ada kapel kecil berkubah kecil yang unik, didalamnya ada patung Annai Velangkanni yang cukup besar, ini dimaksudkan sebagai tempat doa khusus. Kapel ini diresmikan oleh uskup Medan Mgr. A.G.Pius Datubara OFM, tanggal 8 September 2001, mungkin pada saat dimulainya pembangunan graha. Pada pintu masuk dan dinding samping kapel ada lukisan kaca tentang 3 peristiwa mujizat dan penampakan Maria di Velangkanni, lengkap dengan ceritanya. Yang unik adalah ditempatkannya alkitab dikotak kaca didepan pintu masuk, bagian luar Alkitab tersebut hitam terkena asap kebakaran, ini adalah suatu keajaiban karena pada waktu kejadian, baik uang (untuk pembangunan graha) maupun Alkitabnya tetap utuh meskipun seisi rumah ludes terbakar. Dibelakang kapel ada taman bermain kecil untuk anak-anak yang cukup bagus.

 

Berkah Idul Adha November 18, 2010

Filed under: TOP News — Manajemen Usaha Perjalanan @ 6:26 am

Baru saja, dosen-dosen di program studi Manajemen Usaha Perjalanan memperoleh bingkisan manis dari mahasiswa middle. Makanan khas hari raya kurban, yaitu rendang. Lezaaaattt sekali, apalagi disertakan dengan 2 tabung bambu lemang  yang menambah nikmatnya makan siang kami hari ini. Terimakasih Rabina . . .

Makanan yang diberikan Rabina (nama anak Middle-B MUP, yang berbaik hati berbagi ‘kiriman dari kampungnya’ itu) memberi inspirasi bagi saya untuk memposting tulisan baru di blog MUP ini. Rasanya sudah cukup lama, MUP tidak meng-update info-info terbarunya, kalau tidak salah berita terakhir dari MUP yang di-publish adalah pada saat visitasi BAN-PT.

Saya beri tema tulisan ini ‘berkah idul adha’, karena makanan yang diberi Rabina secara tidak langsung karena pelaksanaan Idul Adha kemarin. ^_^

Idul Adha adalah salah satu perayaan umat Muslim, tapi berkahnya diharapkan tidak terbatas hanya untuk umat Muslim. Semangat berbagi dan berkorban sebagai intisari perayaan idul adha diharapkan akan menjadi pemicu kehidupan harmonis bahkan dengan umat dari agama mana pun.

Tahun ini, perayaan Idul Adha terasa sedikit berbeda dan penuh warna. Beberapa orang merayakannya pada tanggal 16 November 2010, yang lainnya pada tanggal 17 November 2010. Tidak ada salah dari keduanya, asalkan niatnya benar. Yang merayakan tanggal 16 tidak perlu menyalahkan yang merayakan idul adha pada tanggal 17, karena kita percaya bahwa perbedaan pendapat adalah hikmah bukan sumber perpecahan.

Sejarah panjang Idul Adha adalah gambaran ketakwaan manusia kepada Sang Khalik. Diceritakan bahwa Nabi Ibrahim as, rela mengorbankan anak kesayangannya demi menunjukkan kecintaannya pada Allah. Dan Allah membalasnya dengan hal yang tidak disangka-sangka, anak Ibrahim as, Nabi Ismail as diganti  Allah (dengan kekuasaan-Nya) dengan seekor domba, sehingga beliau selamat. Itulah cikal bakal pelaksanaan Idul Adha.

Tergambar nilai rela berkorban yang ditunjukkan oleh Ibrahim as, Ismail as dan Siti Hajar as. Dan balasan yang luar biasa dari Allah atas sikapnya tersebut. Tujuan perayaan Idul Adha adalah untuk menggalakkan hal tersebut. Rela berkorban dan kemauan untuk berguna bagi orang lain adalah sikap yang patut ditiru dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah lain dari kalimat terakhir itu juga berarti kita berusaha untuk berbuat sesuatu bagi orang lain, bukan hanya sekedar berharap orang lain yang akan berbuat sesuatu bagi kita. Saya teringat kalimat sakti yang disampaikan berulang-ulang oleh Kepala Sekolahnya Andrea Hirata dalam Novel Fiksinya yang berjudul ‘laskar pelangi’ yang kurang lebih maknya : berbuat baiklah sebanyak-banyaknya bagi orang lain, jadikanlah diri bermanfaat semaksimal mungkin bagi orang lain.

Kalau sudah membicarakan hal tersebut, jadi teringat pada kalimat yang disampaikan oleh Direktur Akpar Medan, Bpk. Renalmon Hutahean di upacara peringatan hari pahlawan, 10 November 2010 lalu. Beliau sampaikan bahwa salah satu contoh sikap kepahlawanan adalah rela berkorban.

Indikator rela berkorban begitu banyak, salah satu contohnya sikap mahasiswa yang membagi makanannya tadi. Bahkan bukan hanya kepada dosennya, teman-teman sekelasnya juga kecipratan rezekinya. Setiap perayaan memiliki nilai tersendiri yang sayang sekali jika dilewatkan begitu saja tanpa dimaknai. Semoga berkah Idul Adha dengan semangat rela berkorban ini akan membuat program studi MUP kita semakin harmonis, penuh nilai tenggang rasa dan terhindar dari aktivitas negative permusuhan.

Tetap semangat MUP, selamat berprestasi!!!

 

Program visitasi oleh BAN-PT Mei 14, 2010

Filed under: Uncategorized — Manajemen Usaha Perjalanan @ 5:27 am

Visitasi hari ini masih berlangsung. Diawali dengan pembukaan visitasi oleh Pak Kosmas Harefa (selaku Pudir 1), dilanjutkan pengarahan dari salah seorang assesor dan presentasi singkat dari prodi MUP yang dibawakan oleh Ibu Windra Aini.

Selanjutnya, tim assesor melakukan interview dengan pihak industri dan alumni MUP. Tim assesor juga meninjau sarana dan prasarana pendukung prodi, seperti bus pariwisata dan ruangan-ruangan kelas & kantor dosen.

Visitasi akan dilanjutkan setelah sholat Jumat.

Tim MUP akan memberikan kabar berikutnya . . .